Tak Cuma Resesi IMF, 15 Ramalan Suram Ekonomi Dunia 2023

Tak Cuma Resesi IMF, 15 Ramalan Suram Ekonomi Dunia 2023

DIGINOMI-SUMUT, Resesi dunia diramal Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) akan terjadi. Bahkan sepertiga dunia akan mengalaminya.

Hal ini dikatakan Direktur Pelaksana IMF Kristalina Georgieva, Senin lalu. “Kami memperkirakan sepertiga dari ekonomi dunia akan berada dalam resesi,” tegasnya dalam wawancara dengan media CBS.

Ia merujuk semua negara yang menjadi mesin utama pertumbuhan. Amerika Serikat (AS), Eropa, dan China, menurutnya, akan mengalami aktivitas yang melemah. “Tahun 2023 akan lebih sulit dari tahun lalu karena ekonomi AS, Uni Eropa dan China akan melambat”, tambahnya lagi.

Sebenarnya tak hanya IMF yang memberi ramalan suram. Hal ini juga disampaikan banyak pihak lain.

Berikut daftar ramalan ekonomi dunia 2023 seperti dirangkum CNBC Indonesia, Jumat (6/1/2022):

1. JPMorgan

JP Morgan dalam outlook-nya menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi di negara maju, akan berdampak signifikan terhadap aktivitas masyarakat jika inflasi tak berhasil ditekan. Kendati demikian, jika inflasi berhasil ditekan, maka bank sentral akan berhenti menaikkan suku bunga, dan risiko resesi terjadi sangat kecil.

“Namun jika inflasi tak berhasil ditekan, akan terjadi skenario yang lebih buruk,” tulis laporan JP Morgan bertajuk ‘Investment Outlook 2023: A Bad year for The Economy, a Better Year for Markets’.

2. Barclays

Sehubungan dengan pentingnya kemajuan ekonomi AS terhadap dunia, Barclays mengatakan ekonomi di Negeri Paman Sam itu kemungkinan akan mengalami kontraksi sepanjang tahun 2023. Ini karena upah dan inflasi di AS masih sangat tinggi.

“Tingkat pengangguran di AS juga diperkirakan akan mencapai 4,8% di tahun ini,” bunyi ramalan itu.

3. Citi

Zona Eropa dan Inggris diramal menjadi negara yang memiliki ekonomi terburuk pada 2023. Hal ini diungkapkan oleh Citi di dalam laporan outlook-nya.

“Di antara ekonomi utama, zona Euro dan Inggris kemungkinan akan menjadi yang terburuk,” tulis Citi dalam laporannya berjudul ‘Roadmap to recovery: Portofolios to anticipate opportunities’.

“Dengan kontraksi setahun penuh masing-masing sebesar 0,5% dan 1%, karena bersaing dengan biaya energi yang sangat tinggi, serta pengetatan kebijakan,” tulis Citi.

4. DBS

DBS mengatakan hal yang sama mengenai ekonomi di zona Eropa. Di kawasan ini diperkirakan pertumbuhan ekonominya hanya akan mencapai 3,2% (yoy).

“Harga energi dan kejutan sentimen yang berasal dari perang di Ukraina pasti akan menurunkan pertumbuhan,” jelas DBS dalam laporannya ‘Managing Polycrisis’.

DBS menyebut, di banyak negara di Asia, harga listrik, bahan bakar dan makanan belum sepenuhnya terpengaruh dari harga internasional. Karenanya pemerintah dan otoritas menggunakan pengendalian harga, menggelontorkan subsidi dan langkah-langkah insentif pajak untuk meredakan dampaknya.

5. Goldman Sachs

Adapun Goldman Sachs dalam laporannya ‘Macro Outlook 2023: This Cycle is Different‘ memperkirakan Eropa hanya akan mengalami resesi ekonomi yang ringan. Benua Biru ini diperkirakan akan berhasil mengurangi impor gas dari Rusia dan mendapat manfaat dari pemulihan ekonomi pasca pandemi Covid-19.

Goldman Sachs menyebut, bank sentral paling berpengaruh di dunia, The Fed masih akan menaikan suku bunga kebijakannya menjadi 5% hingga 5,25% pada 2023. Goldman Sachs mengungkapkan inflasi PCE (personal consumption expenditure) inti AS akan turun dari level 5% saat ini, menjadi ke kisaran 3% pada akhir tahun depan.

Selanjutnya, tingkat pengangguran di AS diperkirakan anak naik sebesar 50 bps. Meski tingkat pengangguran hanya naik tipis, Goldman Sachs meyakini inflasi dapat ditekan karena kondisi saat ini disebut berbeda dari periode inflasi tinggi sebelumnya.

Pertama, karena pasar tenaga kerja pasca pandemi nyatanya tidak berhasil mengurangi angka pengangguran di AS. Kedua, dampak disinflasi dari normalisasi baru-baru ini dalam rantai pasokan dan pasar perumahan sewa masih jauh.

“Dan ketiga, ekspetasi inflasi jangka panjang tetap berlabuh (di tahun depan),” tulis Goldman Sachs dalam laporannya.

6. UOB

UOB dalam laporannya mengungkapkan, laju inflasi global yang bersumber dari inflasi inti diperkirakan akan mereda pada 2023. Namun kemungkinan masih pada rata-rata pada sasaran 2%.

Adapun risiko yang membayangi di tahun ini. Yaitu beberapa potensi guncangan inflasi, putaran baru kenaikan harga energi global, gangguan baru dalam rantai pasokan, dampak berkelanjutan dari konflik Rusia-Ukraina, dan ancaman wage-price spiral.

7. Deutsche Bank

Deutsche Bank dalam outlook-nya mengungkapkan, energi masih menjadi pendorong besar inflasi. Meskipun harga minyak mentah dunia turun beberapa bulan terakhir pada 2022, namun diperkirakan akan diikuti oleh kenaikan tajam pada 2023.

Meningkatnya harga minyak mentah dunia pada tahun ini disebabkan oleh adanya peningkatan permintaan karena percepatan ekonomi China, namun ketersediannya atau supply terbatas.

“Pemotongan produksi yang dipaksakan sendiri oleh OPEC dan perusahana minyak yang tidak memadai. Serta kapasitas produksi yang tidak mencukupi dalam beberapa tahun terakhir,” tulis Deutcshe Bank.

Upaya Uni Eropa dan AS untuk mengecualikan minyak Rusia dari pasar juga akan menambah tekanan. Sementara harga gas yang menurun baru-baru ini dinilai masih mahal, jauh dari harga sebelum meletusnya perang Rusia-Ukraina.

Secara keseluruhan, Deutcshe Bank memperkirakan inflasi 2023 akan mencapai 6% di zona kawasan Eropa dan 4,1% untuk AS. Inflasi yang tinggi diperkirakan akan bertahan setelah tahun 2023. 

“Kecil kemungkinan inflasi di masa mendatang akan kembali ke tingkat yang relatif rendah seperti sebelum pandemi Covid-19,” tulisnya.

8. S&P Global

S&P Global Market Intelligence memprediksi perekonomian negara-negara di Asia Pasifik akan mendominasi pertumbuhan ekonomi global dalam tahun-tahun mendatang. Perekonomian regional Asia Pasifik diperkirakan tumbuh paling tidak 3,5% (yoy) pada tahun depan

“Asia Pasifik yang berkontribusi 35% dari produk domestik bruto (PDB) dunia, akan mendominasi pertumbuhan 2023, di topang oleh perjanjian bebas perdagangan antar negara di sana, rantai pasokan yang efisien, dan biaya yang kompetitif,” tulis S&P dalam pernyataannya.

9. BNP Paribas

BNP Paribas memperkirakan penurunan pertumbuhan PDB global pada tahun 2023. Ini dipimpin oleh resesi di AS dan zona euro, dengan pertumbuhan di bawah tren di China dan banyak pasar negara berkembang.

Bank asal Prancis itu melihat kuartal pertama 2023 sebagai titik balik bagi pasar obligasi pemerintah AS dan zona euro karena puncak suku bunga kebijakan bank sentral dan pasokan bersih Quantitative Easing dan Quantitative Tightening. Dari segi fundamental, penurunan pertumbuhan global dan disinflasi mengarah pada hasil yang lebih rendah sepanjang tahun 2023.

“Meskipun kemungkinan penurunan tajam dalam inflasi tahun depan, tekanan harga yang keras tampaknya akan membuat The Fed AS dan Bank Sentral Eropa naik ke resesi pada kuartal pertama 2023,” tulis lembaga keuangan itu.

10. UBS

UBS memperkirakan prospek yang lemah secara historis, dengan pertumbuhan global hanya 2,1% tahun-ke-tahun pada tahun 2023 akan menjadi yang terendah sejak tahun 1993 tidak termasuk pandemi dan krisis keuangan global.

“Dengan 13 dari 32 ekonomi diperkirakan akan mengalami kontraksi setidaknya selama dua kuartal pada akhir tahun 2023, perkiraan kami mendekati sesuatu yang mirip dengan resesi global,” ujar lembaga keuangan Swiss itu.

Ramalan Lainnya

Selain dari lembaga keuangan, ada juga ramalan perekonomian yang timbul dari para ekonom. Namun lebih ke pandangan bagaimana ekonomi di 2023.

Mengutip Aljazeera, sebenarnya bukan hanya resesi, ini menyangkut inflasi, suku bunga, hingga kebangkrutan.

Berikut lima pandangan mereka:

1. Inflasi dan Suku Bunga

Inflasi diperkirakan akan menurun secara global pada tahun 2023 tetapi tetap sangat tinggi. Negara-negara berkembang diperkirakan akan mengalami penurunan yang lebih sedikit, dengan inflasi diproyeksikan hanya turun menjadi 8,1% pada tahun 2023.

“Kemungkinan inflasi akan tetap lebih tinggi dari 2% yang ditetapkan sebagian besar bank sentral Barat sebagai tolok ukur mereka,” kata ekonomi senior di Universitas Sheffield Hallam, Alexander Tziamalis.

“Energi dan bahan baku akan tetap mahal untuk beberapa waktu. Pembalikan parsial globalisasi berarti impor yang lebih mahal, kekurangan tenaga kerja di banyak negara Barat menyebabkan produksi lebih mahal, dan langkah-langkah transisi hijau untuk memerangi ancaman terbesar yang dihadapi spesies kita semuanya mengarah pada inflasi yang lebih tinggi daripada yang biasa kita alami selama 2010-an,” jelasnya.

2. Resesi

Bukan hanya 10 lembaga global, penekannya soal resesi juga diberikan pemimpin redaksi The Economist, Zanny Minton Beddoes. Ia melukiskan gambaran suram yang diringkas dengan judul artikel yang tegas ‘Why a global recession is inevitable in 2023’.

Bahkan jika ekonomi global secara teknis tidak jatuh ke dalam resesi, kepala ekonom IMF baru-baru ini memperingatkan bahwa tahun 2023 mungkin masih terasa seperti satu untuk banyak orang karena kombinasi dari pertumbuhan yang melambat, harga tinggi, dan kenaikan suku bunga.

“Tiga ekonomi terbesar, Amerika Serikat (AS), China, dan kawasan euro, akan terus terhenti,” kata Pierre-Olivier Gourinchas pada Oktober. “Singkatnya, yang terburuk belum datang, dan bagi banyak orang, 2023 akan terasa seperti resesi.”

3. Pembukaan China

Setelah tiga tahun melakukan protokol penguncian dan pengujian Covid-19 yang ketat, China awal bulan ini memulai proses melonggarkan kebijakan nol-Covid yang kontroversial setelah protes massal warga. Dengan pembatasan kejam di dalam negeri yang sudah berlalu, perbatasan internasional China akan dibuka kembali mulai 8 Januari.

Pembukaan kembali ekonomi terbesar kedua di dunia, yang telah melambat secara dramatis selama setahun terakhir, seharusnya menyuntikkan momentum baru ke dalam pemulihan global. Rebound permintaan konsumen China akan memberikan dorongan bagi eksportir utama seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, dan Singapura.

Sementara berakhirnya pembatasan menawarkan bantuan kepada merek global dari Apple hingga Tesla yang mengalami gangguan berulang kali di bawah kebijakan nol-Covid. Pada saat yang sama, perubahan cepat ini membawa resiko yang mengintai.

Saat ini, rumah sakit di seluruh China telah dibanjiri pasien. Selain itu, kamar mayat dan krematorium dilaporkan kewalahan dengan masuknya jenazah.

Beberapa ahli medis memperkirakan bahwa China dapat melihat hingga 2 juta kematian dalam beberapa bulan mendatang. Selain itu, para ahli juga menyatakan keprihatinan tentang munculnya varian baru yang lebih berbahaya.

“Kecuali pembukaan yang sangat mengganggu ini, saya pikir pasar akan berkembang dengan baik,” kata kepala ekonom untuk Asia Pasifik di Natixis, Alicia Garcia-Herrero.

“Saya akan mengatakan begitu orang melihat ujung terowongan, jadi mungkin akhir Januari, akhir Tahun Baru China, saya berpendapat saat itulah pasar benar-benar akan membaca pemulihan ekonomi China yang cepat,” tambahnya.

4. Kebangkrutan Massal

Terlepas dari kehancuran ekonomi yang ditimbulkan oleh pandemi Covid-19, kebangkrutan sebenarnya menurun di banyak negara pada tahun 2020 dan 2021 karena kombinasi pengaturan di luar pengadilan dengan kreditur dan stimulus pemerintah yang besar.

Di AS, misalnya, 16.140 bisnis mengajukan kebangkrutan pada tahun 2021, dan 22.391 bisnis melakukannya pada tahun 2020. Ini lebih rendah dibandingkan dengan 22.910 pada tahun 2019.

Namun, tren itu diperkirakan akan kembali berbalik pada tahun 2023 di tengah kenaikan harga energi dan suku bunga. Allianz Trade memperkirakan bahwa kebangkrutan secara global akan meningkat lebih dari 10% pada tahun 2022 dan 19% pada tahun 2023, melampaui tingkat sebelum pandemi.

“Pandemi Covid memaksa banyak bisnis untuk mengambil pinjaman besar, memperburuk situasi ketergantungan yang meningkat pada pinjaman murah untuk menutupi hilangnya daya saing Barat karena globalisasi,” kata Tziamalis.

5. Globalisasi yang Terganggu

Upaya untuk memutar kembali globalisasi tampaknya akan terus berlanjut di tahun 2023. Sejak diluncurkan di bawah pemerintahan Trump, perang perdagangan dan teknologi AS-China semakin dalam di bawah Presiden AS Joe Biden.

Pada bulan Agustus, Biden menandatangani CHIPS dan Science Act yang memblokir ekspor chip canggih dan peralatan manufaktur ke China. Ini bertujuan menghambat perkembangan industri semikonduktor China dan memperkuat swasembada dalam pembuatan chip.

Pengesahan undang-undang tersebut hanyalah contoh terbaru dari tren yang berkembang dari perdagangan bebas dan liberalisasi ekonomi menuju proteksionisme dan swasembada yang lebih besar, terutama di industri kritis yang terkait dengan keamanan nasional.

Dalam pidato awal bulan ini, Morris Chang, pendiri Perusahaan Manufaktur Semikonduktor Taiwan (TSMC), produsen chip terbesar di dunia, menyesalkan bahwa globalisasi dan perdagangan bebas telah berada dalam tahapan yang hampir mati.

“Barat, dan khususnya AS, semakin terancam oleh lintasan ekonomi China dan merespons dengan tekanan ekonomi dan militer terhadap negara adikuasa yang baru muncul itu,” kata Tziamalis.

“Perang langsung atas Taiwan sangat tidak mungkin tetapi impor yang lebih mahal dan pertumbuhan yang lebih lambat untuk semua negara yang terlibat dalam perang dagang ini hampir pasti,” tambahnya.

Penulis : Tommy Patrio Sorongan

Sumber : https://www.cnbcindonesia.com/news/20230106064414-4-403266/tak-cuma-resesi-imf-15-ramalan-suram-ekonomi-dunia-2023

Yufika Al Sandra

Yufika Al Sandra

Staf Subbid. Keuangan, Investasi dan Aset Bappeda Provsu

Previous Ditopang UMKM, Ekonomi Kota Medan Stabil Sepanjang 2022<br>

Leave Your Comment

Connect With Us

Alamat: Bappeda Provinsi Sumatera Utara Jl. Pangeran Diponegoro 21-A Medan

Diginomi © 2022. All Rights Reserved