Ancaman Resesi Makin Nyata, Bagaimana Nasib Industri RI?

Ancaman Resesi Makin Nyata, Bagaimana Nasib Industri RI?

DIGINOMI SUMUT I Menteri Keuangan Sri Mulyani mengatakan saat ini kondisi dunia sedang dilanda bahaya di mana berbagai ancaman dari sisi ekonomi hingga keamanan masih terus menghantui.
Dalam sambutannya di acara 4th Finance Ministers and Central Bank Governor (FMCBG) Meeting’ di Washington D.C., AS, Sri Mulyani mengatakan perang Rusia-Ukraina memberikan dampak buruk pada ekonomi global.

Ketegangan geopolitik itu mengakibatkan harga energi, pangan, hingga pupuk meningkat. Imbasnya, inflasi di sejumlah negara melambung. Lonjakan inflasi itu membuat bank-bank sentral di beberapa negara mengerek suku bunga acuannya.

Pada akhirnya, kebijakan moneter yang ketat itu berpotensi memperlambat pertumbuhan ekonomi. Bahkan, sebagian negara terancam terperosok ke jurang resesi.

“Kita bertemu lagi saat situasi ekonomi global menjadi lebih menantang dan saya tidak berlebihan untuk mengatakan bahwa dunia dalam keadaan bahaya,” kata Sri Mulyani.

Pernyataan Sri Mulyani tersebut juga diamini oleh Dana Moneter Internasional (IMF) dan sejumlah lembaga internasional, yang memproyeksi resesi global terjadi pada 2023 mendatang.

Sinyal resesi muncul seiring dengan kebijakan moneter ketat bank sentral di sejumlah negara. Bank-bank sentral ini terus mengerek suku bunganya demi menekan inflasi.

IMF pun memperkirakan ekonomi global hanya tumbuh 3,2 persen pada tahun ini atau turun nyaris separuh dari capaian tahun lalu sebesar 6,1 persen. Sementara pada 2023 diperkirakan hanya 2,9 persen.

Belum selesai masalah yang ditimbulkan dari perang Rusia-Ukraina, baru-baru ini Amerika Serikat memutuskan untuk meninjau kembali hubungannya dengan Arab Saudi, termasuk dari sektor perdagangan.

Keputusan Joe Biden ini dipicu oleh langkah Saudi, bersama negara yang tergabung dalam OPEC+, untuk memangkas target produksi minyaknya. Hal tersebut tentu saja dikhawatirkan menambah kesuraman ekonomi.

Sehubungan dengan ruwetnya ekonomi global, ada kekhawatiran sendiri di kalangan masyarakat soal peluang untuk mendapatkan pekerjaan.

Sebab, biasanya, kondisi ekonomi yang rentan membuat pelaku usaha mau tak mau harus melakukan efisiensi demi keberlangsungan usahanya.

Pada akhirnya, jalan pintas dalam efisiensi adalah dengan memutus hubungan kerja (PHK) terhadap karyawannya. Walaupun memang tidak semua perusahaan langsung melakukan PHK.

Menanggapi hal itu, Ekonom CORE Indonesia Mohammad Faisal menjelaskan sebetulnya kondisi ekonomi dalam negeri masih cukup bagus di tengah ketidakpastian ekonomi global.

“Beda kalau kondisi di luar ada ancaman resesi, terus sinyal- sinyal resesi sudah kelihatan di dalam negeri, tapi ini kan tidak. Ekonomi Indonesia sepanjang tidak ada faktor yang menghalangi orang mobilitas, beraktivitas, itu masih bergerak sebetulnya. Termasuk sektor informalnya,” jelas Faisal kepada CNNIndonesia.com, Kamis (13/10).

Sumber : https://www.cnnindonesia.com/ekonomi/20221014064113-532-860366/ancaman-resesi-makin-nyata-bagaimana-nasib-industri-ri

Intan Theresia Hutabarat

Intan Theresia Hutabarat

Analis Perencanaan Strategis di Sub Bidang Keuangan, Investasi dan Aset Bappeda Provsu

Previous OJK Sebut Ekonomi Global Bakal Hadapi Perfect Storm

Leave Your Comment

Connect With Us

Alamat: Bappeda Provinsi Sumatera Utara Jl. Pangeran Diponegoro 21-A Medan

Diginomi © 2022. All Rights Reserved