Mengurangi Kesenjangan Digital Ekonomi Biru dan Hijau

Mengurangi Kesenjangan Digital Ekonomi Biru dan Hijau

Bandung, 22 Maret 2022 – Laut memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan manusia di berbagai bidang. Untuk memperbaiki iklim investasi dan memberikan kepastian usaha secara berkelanjutan bagi usaha yang berhubungan dengan kelautan, diperlukan penerapan perencanaan ruang kelautan untuk wilayah regional dan pusat berdasarkan asas ekonomi biru. Selain itu, ketersediaan infrastruktur pendukung lainnya harus diimbagi dengan perencanaan ruang laut berasaskan ekonomi biru tersebut. Pada era 4.0 ini, intenet merupakan keharusan untuk dapat berkompetisi di kancah ekonomi digital dunia. 

Webinar T20 Indonesia digelar secara virtual melalui Goesmart 2022 pada tanggal 22 Maret 2022, dari pukul 9:00 WIB sampai dengan 12:00 WIB. Acara ini di pimpin oleh Smart City and Community Innovation Center sebagai lembaga Tuan Rumah Gugus Tugas 2 T20 Indonesia 2022. Webinar bertajuk “Meaningful Broadband for Blue and Green Economy” ini dihadiri oleh Suhono H. Supangkat selaku Lead Co-Chair Task Force 2 dan mengundang Sakti Wahyu Trenggono (Menteri Kelautan dan Perikanan RI), Firman Nurtafiana (Dinas DPMD Jawa Barat), Danny Januar Ismawan (Direktur Layanan Masyarakat & Pemerintah BAKTI Kominfo), Glenn A. Woroch (UC Berkeley), dan J. Scott Marcus (Senior Fellow, Bruegel).

Acara dibuka oleh Suhono H. Supangkat dengan penjelasan tentang T20 (Engagement Group G20 yang bekerja sama dengan think tank nasional dan internasional serta berfungsi sebagai bank kebijakan untuk G20). Ia menjelaskan beberapa peran T20 dalam G20, seperti (1) memberikan masukan analitis dalam proses pengambilan keputusan G20, (2) memberikan rekomendasi independen berdasarkan bukti empiris, (3) mengedepankan kerja sama internasional dengan masukan yang jujur dan berpandangan ke depan antar think tank dan peneliti, dan (4) memprakarsai dialog kebijakan tentang isu yang belum tercakup dalam forum formal.

Acara dilanjutkan dengan kata sambutan dari Menteri Kelautan dan Perikanan RI, Sakti Wahyu Trenggono, yang menjelaskan tentang pilar-pilar utama ekonomi biru yang telah dikembangkan, yaitu kesehatan ekologi, pertumbuhan ekonomi, dan inklusi sosial.

Beliau juga mengatakan bahwa pengelolaan domain kelautan Indonesia sedang mengalami revolusi digital.

“Beberapa platform telah mampu memenuhi kebutuhan digitalisasi sektor kelautan dan perikanan. Solusi inovatif ini dapat digunakan untuk penginderaan, pemahaman, dan pengambilan tindakan,” kata Sakti Wahyu Trenggono.

Dalam pidatonya, beliau juga memberikan penghargaan atas rencana SCCIC untuk membangun proses berprinsip living-lab yang merupakan inisiatif proses.

Setelah sambutan dari Menteri Kelautan dan Perikanan, acara dilanjutkan dengan pemaparan dari para pembicara. Pembicara pertama adalah Firman Nurtafiana dari Dinas DPMD Jawa Barat. Presentasi Firman bertajuk “Policy Support to Ensure Sustainable Digitalization for Rural Ecosystem, West Java Village or Digital Village.” ​Firman menjelaskan bahwa  telah terjadi sebuah transformasi yang luar biasa di Jawa Barat dalam dunia digital.

“Program Kampung Digital tidak hanya berupa Wi-Fi gratis, tetapi juga mengenai perubahan cara orang berdagang dan berkomunikasi, pemetaan potensi, dan promosi pariwisata melalui ekosistem digital untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat pedesaan,” kata Firman.

Diskusi berlanjut dengan pemaparan oleh Danny Januar Ismawan (Direktur Layanan Masyarakat & Pemerintah BAKTI Kominfo). Danny mengawali paparannya dengan memperkenalkan BAKTI sebagai lembaga Universal Service Obligation (USO) di bidang telekomunikasi di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, jelas Danny, Indonesia menghadapi tantangan untuk menyediakan infrastruktur telekomunikasi yang memadai secara merata, sehingga fokus utama BAKTI berada di area 3T (terdepan, terluar, tertinggal) ini. Danny juga menyebutkan bahwa Sumber Daya Manusia Digital sangat penting dalam mengadopsi teknologi digital dan internet. Ia memaparkan bahwa BAKTI bermitra dengan beberapa pemangku kepentingan di perusahaan rintisans, universitas, instansi pemerintah, operator telekomunikasi, dan perusahaan digital.

“Akses digital merupakan sarana penting bagi masyarakat untuk menuju masa depan yang lebih baik, sehingga konektivitas internet merupakan salah satu kebutuhan fundamental bagi masyarakat, dan inilah  fokus BAKTI,” kata Danny.

Sesi terakhir adalah pemaparan dari Glenn A. Woroch dan J. Scott Marcus mengenai pengurangan kesenjangan digital. Glenn menjelaskan bahwa digitalisasi memerlukan infrastruktur dan kesenjangan digital memang tidak terelakkan.. Ia menyebutkan bahwa kesenjangan digital ini terjadi karena ada kelompok tak terlayani (unserved) yang konektivitas digitalnya sangat rendah, kelompok kurang terlayani (underserved) yang konektivitas digitalnya tersedia hanya dalam kecepatan rendah sehingga tidak cukup untuk layanan digital masa kini, dan kelompok bukan pemakai (non-adopter) yang tidak mampu memakai layanan walaupun teknologinya tersedia. Glenn menyebutkan dua strategi kebijakan yang dapat diterapkan untuk mengurangi kesenjangan digital ini, yaitu memberi subsidi penggelaran layanan pita lebar di daerah yang kekurangan layanan ini dan mendorong pemakaian layanan pita lebar di daerah yang jumlah pemakainya sedikit.

Scott menekankan perlunya konektivitas di masa kini. Ia mengatakan bahwa konektivitas nirkabel berperan penting karena menghasilkan manfaat ekonomi yang besar. Pentingnya konektivitas ini semakin terasa selama pandemi COVID-19 di mana orang hanya dapat melakukan pekerjaannya secara virtual melalui perangkat digital. Namun, masalah kesenjangan ini tetap menjadi penghambat. Solusi atas masalah ini akan berbeda di setiap negara. Scott mengatakan bahwa selain pendanaan, pembuatan kebijakan yang baik memainkan peran kunci. Ini dilakukan dengan melakukan identifikasi yang tepat, memanfaatkan statistik yang komprehensif, melakukan pemetaan, pembuatan, dan implementasi rencana pita lebar, serta adanya pembuat kebijakan yang independen dan terlepas dari kepentingan politik.

Ada banyak hal dalam webinar ini yang membuka mata, terutama bahwa selama proses transformasi digital ini, semua masalah yang kita hadapi seringkali hanya dapat diatasi dengan menggunakan  internet. Begitu banyak hal yang perlu dikerjakan, antara lain hal-hal terkait pengembangan sebuah aplikasi, peningkatan kemampuan sumber daya manusia dan kemampuan digital. Menjembatani kesenjangan adalah sesuatu yang harus kita selesaikan terlebih dahulu dengan menjembatani konektivitas. Ini bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau entitas tertentu. Kita semua bertanggung jawab untuk bersatu dan menyelesaikan masalah tersebut.

(Sumber: T20 Indonesia, sebagaimana di kutip dari https://kemlu.go.id/portal/id/read/3437/siaran_pers/mengurangi-kesenjangan-digital-ekonomi-biru-dan-hijau)​

Tarsudi

Tarsudi

Kepala Bidang Perencanaan Ekonomi Kemaritiman dan Sumber Daya Alam Bappeda Provinsi Sumatera Utara

Previous Potensi Besar Indonesia pada Ekonomi Hijau dan Digital

Leave Your Comment

Connect With Us

Alamat: Bappeda Provinsi Sumatera Utara Jl. Pangeran Diponegoro 21-A Medan

Diginomi © 2022. All Rights Reserved